Soal La Nyalla, RPS: Orang Bermental Preman Tak Layak Jadi Cagub

oleh -120.321 views

Jakarta (ADC)- Sikap La Nyalla kini terbukti telah menyebarkan kebohongan. Untuk itu, RPS_2019 siap menuntut pertanggungjawaban dari La Nyalla.

“Kami perkumpulan para pejuang dan para aktivis lintas zaman yang pembentukannya dengan tujuan berjuang mengusung Prabowo Subianto sebagai Presiden 2019,” tegas Ketua RPS Pusat, Dr. Ir. H. M. Nizar Dahlan, M.Si. dalam rilis pers, Kamis, 18 Januari 2018.

Penegasan itu menjawab nyanyian La Nyalla Mahmud Mattalitti yang menyerang Prabowo dengan menyebut “Prabowo memalak La Nyalla”. Para pengurus RPS menjawab kicauan La Nyalla yang dianggap telah menyerang kehormatan dan nama besar Prabowo.

”Kami punya tanggung jawab moral terhadap figur Prabowo, kami mengikuti dengan cermat perkembangan La Nyala menjadi bakal calon Gubernur Jawa Timur dengan mengharap dukungan Gerindra yang memiliki kursi di DPRD Jawa Timur,” kata Nizar.

Dukungan Gerindra untuk mengusung calon Gubernur di Jawa Timur belu memenuhi syarat seperti yang telah ditentukan oleh undang-undang yaitu minimal 20 kursi.

“Tetapi belum cukup seperti yang disyaratkan undang-undang minimal 20 kursi, kemudian La Nyalla gagal karena tidak sanggup datangkan kursi tambahan sesuai surat tugas yang diberikan Gerindra, hal ini menjadi booming di medsos karena La Nyala menyatakan dirinya ‘dipalak’ oleh Prabowo Subianto, tapi di ILC TV One pada Selasa, 16/1/2106 La Nyalla melalui suratnya menyatakan yang palak bukan Prabowo tapi oknum dari Gerindra,” urai Nizar, mantan anggota DPR RI tahun 2009-2014 ini.

Menurut sang cendikia yang sudah merasakan asam garam penjara ini menilai La Nyalla tidak konsisten dan dianggap telah dengan sengaja menyerang kehormatan dan nama besar Prabowo.

“Coba lihat bahasa ‘palak’, itu bahasa yang tidak etis, itu bahasa preman. Masa Prabowo dan ulama mau mendukung preman jadi pemimpin daerah?,”  tanya Nizar dengan nada tinggi.

Anehnya, media tertentu yang dinilai anti Prabowo juga ramai menulis ‘Uang Mahar La Nyala untuk Prabowo’. Padahal berita itu berisi fitnah yang sungguh keji. RPS menilai pernyataan itu mengarah pada perbuatan melawan hukum.

“Berita itu tidak sesuai kenyataan. Itu judul yang sangat bombastis, kalian dengar sendirikan, surat La Nyalla yang dibacakan dalam acara ILC TV One tadi malam”? kata Nizar.

Di acara ILC TV One Karni Ilyas mengatakan La Nyalla akan hadir untuk menjelaskan hal ini, tapi kata Nizar, La Nyalla memilih tidak hadir, hanya mengirim surat klarifikasi.

“Yang hadir ternyata tim La Nyalla yakni Faisal Assegaf yang cara ngomongnya memalukan, tampaknya Faisal Assegaf tidak menguasai masalah, Tubagus Danil Hidayat malah membeberkan oknum Gerindra, bukan Prabowo,” kata Nizar menilai tayangan di ILC TV One.

“Kemarin-kemarin mereka teriak Prabowo palak La Nyalla, tadi malam mereka membelok, orang-orang yang tidak amanah dan tidak konsisten seperti itu apa didukung para ulama?,” sindir Nizar.

Lebih jauh Nizar yang juga alumni HMI ini mengatakan, Tubagus Danil Hidayat semalam menyatakan telah menerbitkan cek sebesar Rp 70 milyar tetapi dananya belum ada.

“Dananya ada tapi nanti bulan April. Berarti yang diserahkan itu cek kosong, padahal cek itu surat berharga. Cek itu alat pembayaran sah yang dananya sudah siap di rekening yang mengeluarkan cek itu,” ujarnya.

Padahal jelas Nizar, perbuatan itu jelas sudah menyalahi undang-undang perbankan dan Peraturan Bank Indonesia.

“Seharusnya yang diserahkan adalah Giro yang jatuh tempo bulan April. Bukan cek kosong, kalau cek kosong itu kejahatan, masuk kategori penipuan,” pungkasnya. (r)