Kontrak Diputuskan, Proyek Stadion Mini Calang Sarat Masalah

oleh -97.321 views

Calang (ADC)- Pasca diputuskan kontrak oleh Dinas Pemuda Dan Olah Raga Kabupaten Aceh Jaya, proyek pekerjaan pembangunan stadion mini Calang kini menuai ragam masalah. Proyek yang dikerjakan oleh PT. Pelita Cemerlang Indonesia dan diawasi oleh perusahaan CV. Center Design Engineering dengan nilai kontrak Rp. 2.961.740.000,- sumber dana DID 2017 berakhir masa pelaksanaannya pada tanggal 9 Desember 2017.

Akibat pemutusan kontrak sepihak oleh Dispora Aceh Jaya serta tidak diberikan kesempatan penambahan waktu (adendum) kabarnya rekanan (PT. Pelita Cemerlang Indonesia) mengadu ke Yayasan Advokasi Rakyat Aceh ( YARA ) karena merasa dirugikan.

Ketua YARA Safaruddin, SH yang dimintai keterangannya oleh media ini membenarkan hal tersebut diadukan rekanan ke pihaknya, namun Safar tidak menjelaskan persoalannya secara rinci dengan dalih kasus tersebut ditangani Yudi yang merupakan anggotanya.

“Saya cek dulu ke kantor, karena kasus tersebut ditangani oleh Yudi”, tulis Safar melalui pesan WhatsApp ( 02/01/2018) menjawab pertanyaan wartawan yang dikirimkan kepadanya.

Direktur Hukum Dan HAM YARA Yudhistira Maulana, SH yang menelfon wartawan via henphon selularnya menjelaskan, dalam hal proyek pekerjaan stadion mini Calang rekanan mengalami kerugian, rugi akibat pemutusan kontrak dan tidak diberikan kesempatan adendum, padahal rekanan sudah menegaskan pihaknya berjanji akan menyelesaikan pekerjaan jika penambahan waktu 50 hari diberikan, serta rekanan siap membayar denda sesuai ketentuan peraturan dan perundang – undangan yang berlaku.

“Dalam rapat evaluasi ke II antara pihak rekanan dengan pihak Dinas, termasuk consultan pengawas, kepala dinas selaku PA, PPK, PPTK dan semua unsur, rekanan meminta penambahan waktu, tetapi tidak ditanggapi. Akibat tidak ditanggapi rekanan tidak lagi membuat surat permohonan penambahan waktu, karena permintaan dalam rapat resmi saja tidak ditanggapi,” pungkas Yudi (03/012018).

Selain itu Yudi memaparkan, pemberian kontrak pekerjaan tersebut tidak sesuai pada waktunya, pemberian kontrak kerja kepada rekanan tertunda satu bulan. Kontrak kerja baru diterima rekanan pada bulan September 2017, seharusnya kontrak kerja diterima bulan Agustus 2017.

“Pekerjaan juga ikut tertunda satu bulan karena tidak ada kontrak kerja”, imbuh Yudi

Pemutusan kontrak kerja dinilai Yudi juga janggal, kontrak diputuskan dengan dua surat yang berbeda, surat pertama dikeluarkan tanggal 11 ketika pihak dinas mengklaim asuransi ke bank, pihak bank menolak karena surat tersebut dianggap opset, maka diubah kembali surat tersebut ke tanggal berlaku surut yaitu tanggal 9, Yudi merasa heran kenapa bisa satu surat di ubah dua kali.

Selain itu terkait progres lapangan, progres lapangan menurut konsultan dari pihak pelaksana sudah mencapai 90 persen, tetapi dinilai oleh konsultan dari pihak hanya 69, 58 persen.

Ketika ditanya langkah apa yang dilakukan pihak YARA pasca menerima aduan dari rekanan, Yudi menjelaskan, yang pertama pihaknya akan mengupayakan melakukan mediasi dengan pihak Pemkab Aceh Jaya, dalam hal itu jika kontrak kerja tidak lagi bisa diberikan kesempatan penambahan waktu, maka mereka berharap agar pekerjaan bisa dibayar sesuai progres sebenarnya dilapangan.

“Tolonglah dibayar sesuai progres dilapangan, agar rekanan tidak terlalu banyak rugi dalam pekerjaan ini”, harap Yudi.

Sementara sebuah sumber lainya, menilai jika proyek pekerjaan pembangunan stadion Calang dari sejak awal sarat masalah, bahkan dugaan praktek indikasi korupsi pun tercium di proyek bernilai milyaran, dimana rekanan diduga telah mengeluarkan uang diluar prosedur sejumlah Rp. 290.000.000,- dalam menjalankan pekerjaan tersebut. 

Dalam sebuah Kwtansi yang ditandatangi atas materai 6.000 oleh penerima, rekanan mengelontorkan dana sebesar Rp. 150.000.000,- Untuk Pembayaran Dana Kompensasi Dalam Pengurusan Pekerjaan Stadion Mini Calang. 

Sedangkan di sebuah Kwtansi lagi yang juga ditandatangani tapi tanpa menggunakan materai, rekanan kembali mengorek kocek sebesar Rp.140.000.000,- untuk pembayaran bagi hasil yang disebut untuk Bupati Aceh Jaya dari pekerjaan pembangunan stadion mini Calang.

“Kita berharap aparat penegakan hukum untuk menelusuri, mengungkapkan. Kasus seperti ini merupakan dugaan indikasi korupsi artinyan praktek suap menyuap disinyalir telah terjadi, apalagi membawa nama bupati. Karena jika hal itu tidak benar, maka bupati bisa menuntut pihak – pihak yang membawa – bawa nama bupati. Karena ini menyangkut dengan citra dan nama baik Bupati Aceh Jaya,” ujar sumber yang tidak ingin dituliskan namanya (03/01/2018).

Terkait adanya praktek suap menyuap ini, beberapa pihak di Aceh Jaya yang dimintai tanggapannya enggan memberi komentar. Wakil Ketua DPRK Aceh Jaya Teuku Asrizal, SH saat dimintai tanggapannya pihak WhatsApp dirinya berdalih belum mengerti masalah.

“Belum mengerti masalah, perlu dipelajari lebih detil lagi,” tulis Asrizal (03/01/2018).

Kadispora Aceh Jaya, Saiful Bahri juga hanya memberikan sepenggal kata, Saiful hanya menegaskan perihal sejumlah uang tersebut tidak ada kaitan atau sangkut pautnya dengan pemutusan kontrak pekerjaan.

“Tidak ada kaitan,” tulis Saiful Bahri singkat membalas pesan yang dilayangkan wartawan kepadanya melalui WhatsApp. (NS)

Foto: Plang proyek

No More Posts Available.

No more pages to load.