Kanwil Bea Cukai Aceh Sita Rokok Ilegal Senilai 424 Juta

oleh -135.321 views

Banda Aceh (MBA)- Petugas Kantor wilayah Bea Cukai Aceh menyita 418.000 (empat belas ribu) batang rokok ilegal (tidak dilekati pita cukai/polos) merek “Luffman” warna merah di kawasan Beureunuen, Kabupaten Pidie, Aceh pada Jumat 6 Maret 2020 pukul 14.45 WIB.

Rokok yang diproduksi di bawah pengawasan Leadon Tobacco Int’l Inc, Amerika Serikat tersebut, ditaksir bernilai Rp 424.270.000 (empat ratus dua puluh empat juta dua ratus tujuh puluh ribu rupiah) serta taksiran kerugian negara sebesar Rp 196.460.000 (seratus sembilan puluh enam juta empat ratus enam puluh ribu rupiah). 418 ribu barang rokok tersebut dikemas dalam 41 karton (@ 50 slop @ 10 bungkus @ 20 batang) dan 40 slop (@ 10 bungkus @ 20 batang).

Keberhasilan penyitaan rokok ilegal ini atas sinergi antara Kanwil Bea Cukai Aceh dan Kanwil Sumatera Utara,” ungkap Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Kanwil Bea Cukai Aceh Isnu Irwantoro, dalam siaran persnya kepada media ini, Senin 9 Maret 2020.

Berdasarkan informasi yang disampaikan Kanwil Bea Cukai Sumatera Utara ke Kanwil Bea Cukai Aceh, bahwa ada sarana pengangkut darat (mobil jenis pick up) bermuatan rokok ilegal dari wilayah Sumatera Utara menuju Aceh.

Atas informasi tersebut, Kanwil Bea Cukai Aceh menindaklanjutinya dengan melakukan pelacakan berdasarkan plat nomor mobil pick up tersebut. Hasil dari pelacakan, mobil tersebut, berada di wilayah Beureunuen, Kabupaten Pidie. Jumat 6 Maret 2020 sekitar pukul 13.00 WIB.

Selanjutnya petugas dari Kanwil Bea Cukai Aceh menuju lokasi tersebut. Tiga setengah jam kemudian, petugas berhasil menemukan mobil pengangkut rokok ilegal tersebut saat akan bongkar muatan di sebuah tempat pencucian mobil (doorsmeer) yang sudah tutup permanen.

“Setelah diperiksa, petugas mendapati mobil tersebut penuh muatan rokok sigaret putih mesin (SPM) merek “Luffman” warna merah tanpa dilekati pita cukai / polos. Selanjutnya petugas mengamankan sopir, seorang kernet, mobil pick up beserta muatannya menuju Kanwil Bea Cukai Aceh di Banda Aceh untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” ujarnya.

Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Kanwil Bea Cukai Aceh juga menjelaskan, tahun 2020 ini, Kementerian Keuangan menaikkan Harga Jual Eceran (HJE) dan tarif cukai rokok dengan rata – rata kenaikan sebesar 35 persen dan 23 persen dibanding tahun 2019.

Isnu Irwantoro menyebutkan, kenaikan tersebut semata-mata untuk pengendalian konsumsi rokok, kepentingan penerimaan negara, memberikan kepastian arah kebijakan tarif cukai rokok, dan memudahkan pemungutan serta pengawasan rokok secara berkesinambungan. Atas kenaikan ini, ada kemungkinan pihak- pihak tertentu (oknum) untuk memanfaatkan celah ini untuk melakukan praktik peredaran rokok ilegal.

“Untuk itu, Kanwil Bea Cukai Aceh terus bertekad melakukan upaya melalui operasi Gempur Rokok Ilegal yang beredar di wilayah Provinsi Aceh,” pungkasnya.

Selain itu, ia juga menambahkan, sepanjang tahun 2019, operasi Gempur Rokok Ilegal Kanwil Bea Cukai Aceh beserta lima Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea Cukai (KPPBC) di Provinsi Aceh (KPPBC Sabang, KPPBC Banda Aceh, KPPBC Meulaboh, KPPBC Lhokseumawe, dan KPPBC Kuala Langsa) telah berhasil menyita rokok ilegal sebanyak 2.748.304 (dua juta tujuh ratus empat puluh delapan ribu tiga ratus empat) batang.

Rokok ilegal memiliki ciri – ciri yakni rokok dengan kemasan yang tidak dilekati pita cukai (polos); dilekati pita cukai palsu; dilekati pita cukai bekas pakai; dilekati pita cukai bukan peruntukannya; dan/atau dilekati pita cukai salah personalisasi. Sanksi hukum terhadap para pelaku rokok ilegal diatur Undang – Undang Nomor 11 Tahun 1995 Tentang Cukai sebagaimana diubah dengan Undang – Undang Nomor 39 Tahun 2007 Tentang Perubahan Undang – Undang Nomor 11 Tahun 1995 Tentang Cukai Pasal 29, Pasal 32, Pasal, 54, Pasal 55, dan Pasal 58. Pasal – Pasal tersebut mengatur sanksi denda dan pidana penjara yang bervariasi (tergantung kasus hukum) dari denda paling sedikit 2 (dua) kali dan paling banyak 20 (dua puluh) kali dari nilai cukai yang seharusnya dibayar serta pidana penjara paling singkat 1 (satu) tahun dan paling lama 8 (delapan) tahun.

“Masyarakat dimohon untuk tidak menawarkan, membeli, menjual, maupun mengedarkan rokok ilegal tersebut. Jika masyarakat mengetahui praktik rokok ilegal tersebut, dapat menginformasikannya melalui Kanwil Bea Cukai Aceh di nomor (0651) 35800, surat elektronik di kwbcnad@customs.go.id, atau media sosial @BCkanwilAceh (twitter, fanpage facebook, instagram, dan youtube) serta melalui 5 (lima) KPPBC yang tersebar di Provinsi Aceh,” pinta Kepala Bidang Fasilitas Kepabeanan dan Cukai Kanwil Bea Cukai Aceh ini. (R)